Gue punya usaha kecil di bidang jasa. Karyawan tetap cuma tujuh orang, tapi yang keluar-masuk bisa dua kali lipat dalam setahun. Capek juga ngurusnya. Setiap kali ada yang resign, gue harus cari pengganti, wawancara, latih dari nol lagi. Dan sering banget orang yang kelihatan oke pas wawancara, ternyata nggak cocok pas kerja.
Sebulan lalu gue mutusin buat ngubah total cara gue wawancara. Bukan karena ada teori baru atau seminar mahal. Cuma karena gue capek salah pilih orang terus. Dan ternyata, perubahan yang gue rasain setelah sebulan ini lumayan banget — bukan cuma buat gue, tapi buat tim dan buat usaha gue secara keseluruhan.
Baca juga: Gagal Wawancara Pertama, 5 Pelajaran Karier buat Kamu si Pemula
Baca Juga: cuantotoaksesasia.xyz
Kenapa Gue Akhirnya Ubah Cara Wawancara
Sebelumnya, cara wawancara gue standar banget. Gue duduk di seberang meja, baca CV, tanya pengalaman kerja, tanya kenapa mau pindah, terus tanya ekspektasi gaji. Selesai. Kalau orangnya bisa jawab dengan lancar dan kelihatan rapi, gue rekrut.
Masalahnya, cara ini nggak pernah bener-bener nunjukin siapa orangnya. Gue pernah rekrut satu orang yang jawabannya perfect banget. Pas masuk kerja, dia nggak bisa kerja sama tim. Suka ngambek kalau dikasih feedback. Akhirnya keluar sendiri tiga bulan kemudian. Dari situ gue sadar, wawancara gaya lama gue cuma ngetes kemampuan ngomong, bukan kemampuan kerja.
Jadi gue bikin aturan baru buat diri sendiri. Simpel aja, nggak pakai template-template aneh. Intinya, gue mau kenal orangnya dulu sebelum ngasih keputusan.
Tiga Perubahan yang Gue Lakuin
Ada tiga hal yang gue ubah dari cara wawancara gue. Nggak semuanya rumit, malah ada yang kedengeran sepele. Tapi efeknya kerasa banget.
Untuk topik 18TOTO - Cara Verifikasi Akun Pragmatic Play Terbaru Agar Transaksi Lancar Tanpa Kendala, baca ulasan lengkapnya di sini.
1. Ngobrol dulu, nggak langsung nanya soal kerjaan
Sekarang 10 menit pertama wawancara, gue nggak bahas kerjaan sama sekali. Gue tanya soal dia suka ngapain di akhir pekan, atau terakhir kali dia belajar hal baru itu apa. Kadang gue cerita dulu soal usaha gue, gimana suasana kerjanya, siapa aja orangnya.
Kenapa? Karena dari obrolan santai ini, gue bisa lihat gimana dia berinteraksi. Orang yang kaku banget dan nggak bisa ngobrol santai biasanya juga susah adaptasi sama tim kecil. Di usaha kecil, skill teknis bisa dilatih, tapi attitude dan cara komunikasi jauh lebih susah diubah.
Untuk topik 18TOTO - Cara Verifikasi Akun Pragmatic Play Terbaru Agar Transaksi Lancar Tanpa Kendala, baca ulasan lengkapnya di sini.
2. Kasih studi kasus nyata, bukan pertanyaan teoretis
Dulu gue suka nanya, "Kalau ada masalah X, kamu ngapain?" Jawabannya selalu bagus, karena itu pertanyaan yang bisa dijawab dengan teori. Sekarang gue kasih situasi nyata yang pernah terjadi di usaha gue. Misalnya, "Pelanggan marah karena pesanan telat, padahal itu bukan salah kita. Kamu ngapain?"
Gue nggak nyari jawaban yang sempurna. Gue nyari cara dia mikir. Ada yang langsung ngasih solusi, ada yang nanya balik dulu, ada yang cerita pengalaman serupa. Semua jawaban itu ngasih gue gambaran yang jauh lebih jelas dibanding jawaban hafalan.
3. Libatkan tim buat ngobrol sebentar
Ini yang paling ngubah segalanya. Sekarang kandidat yang lolos tahap gue, gue ajak ngobrol santai sama dua orang tim gue selama 15 menit. Nggak formal, cuma ngopi bareng. Gue minta tim kasih feedback jujur: "Kamu nyaman nggak kerja sama orang ini?"
Hasilnya? Tim gue jadi lebih peduli sama proses rekrutmen. Mereka ngerasa punya suara. Dan beberapa kali, feeling mereka lebih tajam dari gue. Ada kandidat yang di mata gue bagus, tapi tim bilang "kayaknya nggak cocok deh". Gue dengerin, dan ternyata bener.
Yang Berubah Setelah Sebulan
Gue nggak mau lebay, tapi perubahannya nyata. Pertama, proses wawancara jadi lebih lama. Dari yang biasanya 30 menit, sekarang bisa 45 sampai 60 menit per orang. Awalnya gue takut buang waktu. Ternyata justru hemat waktu, karena gue nggak perlu ngulang rekrutmen tiga bulan kemudian.
Kedua, kandidat yang masuk sekarang lebih nyaman. Beberapa bilang mereka ngerasa "dilihat sebagai orang, bukan cuma tenaga kerja". Efeknya, mereka lebih cepat terbuka dan lebih jujur soal ekspektasi mereka. Ini penting banget, karena kalau ekspektasi nggak match dari awal, ya tinggal tunggu waktu aja sampai salah satu pihak kecewa.
Ketiga, dan ini yang paling gue syukurin, tingkat turnover karyawan turun. Dalam sebulan terakhir, nggak ada satu pun karyawan baru yang keluar. Padahal biasanya di bulan pertama, udah ada aja yang hilang. Mungkin kebetulan, mungkin juga karena kita milih orang dengan lebih hati-hati.
Informasi selengkapnya bisa dibaca di 18TOTO.
Rekrutmen bukan soal cari yang paling pintar. Rekrutmen itu soal cari yang paling cocok, dan itu butuh proses yang jujur dari dua sisi.
Yang Perlu Kamu Siapin Kalau Mau Coba
Kalau kamu pemilik usaha kecil dan mau coba cara ini, ada beberapa hal yang perlu kamu siapin. Pertama, waktu. Wawancara bakal lebih panjang, jadi jangan jadwalin lima kandidat dalam sehari. Cukup dua atau tiga, biar kamu nggak buru-buru dan bisa fokus.
Kedua, kamu harus siap dengerin tim. Kadang feedback mereka nggak enak didenger, apalagi kalau kamu udah suka sama kandidatnya. Tapi justru di situ nilainya. Tim yang kerja bareng setiap hari punya perspektif yang nggak kamu punya.
Baca Juga: Jangan biarkan momen menyenangkan ini jadi milik orang lain!
Ketiga, jangan takut buat nolak kandidat yang "di atas kertas" bagus. Pengalaman gue, CV bagus dan wawancara lancar itu nggak selalu berarti orangnya cocok. Kadang yang CV-nya biasa aja tapi attitude-nya oke, justru lebih tahan lama.
- Lebih lama tapi lebih hemat — proses wawancara panjang menghemat biaya rekrutmen ulang
- Tim jadi terlibat — mereka ngerasa punya tanggung jawab atas pilihan bersama
- Kandidat lebih nyaman — suasana santai bikin mereka lebih jujur soal ekspektasi
- Turnover turun — orang yang cocok cenderung bertahan lebih lama
Sebulan emang belum cukup buat bilang ini sukses total. Gue masih terus ngamatin dan nyesuain. Tapi buat usaha kecil yang nggak punya tim HRD, perubahan kecil kayak gini rasanya berdampak besar. Kamu nggak perlu sistem canggih atau software mahal. Yang kamu perlu cuma kemauan buat ngobrol lebih lama dan dengerin lebih banyak.
Kalau kamu lagi capek rekrutmen terus-terusan dan karyawan baru pada kabur, coba deh ubah cara wawancaramu sebulan aja. Nggak ada ruginya. Paling buruk, kamu balik ke cara lama. Paling bagus, kamu nemu orang-orang yang bikin usahamu lebih tenang.