Malam itu saya duduk di teras rumah kontrakan, ditemani sinyal yang kadang hilang. Baru saja saya dapat panggilan interview untuk posisi admin di sebuah koperasi di kota kabupaten, sekitar 40 kilometer dari kampung saya. Senang sih, tapi ada satu pertanyaan yang bikin saya deg-degan sejak awal: "Berapa ekspektasi gaji Anda?"
Saya ingat betul waktu itu saya asal jawab, "Terserah Bapak saja, yang penting bisa kerja." Hasilnya? Saya diterima, tapi gaji yang saya terima jauh di bawah yang saya bayangkan. Bukan karena perusahaan pelit, tapi karena saya sendiri tidak punya angka yang jelas. Nah, dari kejadian itu saya belajar banyak. Tulisan ini saya buat buat kamu yang mungkin sedang di posisi sama: anak kampung, anak rantau yang balik, atau siapa pun yang mau kerja di kota kecil tapi bingung soal gaji.
Baca juga: Pensiunan Kerja Lagi: Hemat Biaya, Hasil Tetap Oke
Kenapa Pertanyaan Gaji Itu Terasa Menakutkan di Kampung?
Di kota besar, ngomongin gaji itu biasa. Teman-teman kantor bisa santai bilang, "Gue dapet segini, lo?" Tapi di kampung atau kota kecil, ngomongin gaji itu masih tabu. Banyak dari kita yang diajari orang tua buat tidak bertanya soal uang ke orang yang lebih tua atau ke calon atasan. Akibatnya, saat interview, kita jadi kaku dan canggung.
Padahal, interviewer juga manusia. Mereka cuma butuh angka biar bisa menyesuaikan dengan anggaran perusahaan. Kalau kita jawab "terserah", mereka bingung, dan akhirnya ngasih angka paling rendah yang mereka punya. Ini bukan jahat, tapi memang begitulah cara kerja anggaran.
Ada lagi faktor lain: kita sering merasa tidak layak minta gaji tinggi karena latar belakang kita bukan dari kota, bukan dari kampus terkenal, atau karena kita merasa "cuma" lulusan SMA/SMK. Padahal, perusahaan butuh orang yang bisa kerja, bukan cuma butuh gelar.
Cerita Sedikit: Salah Saya Dulu
Balik ke cerita awal tadi. Setelah diterima dengan gaji pas-pasan, saya coba tanya ke teman yang kerja di tempat lain. Ternyata, teman saya yang posisinya sama, tapi berani nego, dapat gaji 30 persen lebih tinggi dari saya. Sakit hati? Iya. Tapi itu jadi pelajaran mahal.
Yang bikin kita rugi bukan karena kita dari kampung, tapi karena kita tidak berani ngomong angka.
Sejak itu, setiap kali interview, saya selalu siapkan angka. Saya cari tahu dulu gaji standar di daerah situ, tanya teman, tanya tetangga yang kerja di instansi mirip, atau lihat lowongan lain yang sejenis. Dari situ saya dapat rentang angka, bukan satu angka mati.
Cara Jujur Tapi Cerdas Jawab Soal Gaji
Ini beberapa trik yang saya pakai dan terbukti membantu. Nggak muluk-muluk, tapi realistis buat kita yang kerja di kota kecil atau desa.
1. Sebutkan Rentang, Bukan Angka Mati
Jangan bilang "Saya minta 3 juta." Bilang saja, "Untuk posisi ini, saya melihat standarnya di kisaran 2,8 sampai 3,5 juta. Saya terbuka untuk diskusi." Dengan begitu, kamu kelihatan fleksibel tapi tetap punya batas bawah yang jelas.
2. Kaitkan dengan Kontribusi, Bukan Kebutuhan
Hindari bilang "Saya butuh 3 juta karena harus bayar kontrakan." Itu bukan salah, tapi interviewer nggak peduli dengan kebutuhan pribadi kita. Mereka peduli apa yang bisa kita berikan. Jadi bilang, "Dengan pengalaman saya mengurus administrasi dan pelanggan, saya yakin bisa bantu operasional harian jadi lebih rapi."
3. Tanya Balik dengan Sopan
Kalau interviewer tanya ekspektasi gaji, kamu boleh balik tanya, "Sebelumnya, boleh tahu range anggaran yang disiapkan untuk posisi ini?" Ini bukan sombong, ini wajar. Banyak HRD justru menghargai kandidat yang punya keberanian bertanya.
Hal-hal yang Sering Dilupakan Anak Kampung
Selain gaji, ada beberapa hal yang sering kita lupakan saat interview di kota kecil atau desa. Pertama, transportasi. Kalau lokasi kerja jauh dari rumah, tanyakan apakah ada uang transport atau mess. Kedua, jam kerja. Di kampung, kadang jam kerja lebih longgar tapi juga bisa lebih panjang karena budaya "sekalian bantu". Ketiga, tunjangan hari raya dan BPJS. Jangan malu tanya. Itu hak kamu.
Saya pernah interview di sebuah usaha dagang di kecamatan. Waktu itu saya nggak tanya soal BPJS. Ternyata setelah masuk, saya baru tahu kalau BPJS ditanggung sendiri. Kalau dari awal saya tanya, saya bisa pertimbangkan ulang. Jadi, tanyakan semua yang penting di awal, bukan setelah tanda tangan kontrak.
Jangan Rendahkan Diri Sendiri
Ini yang paling penting. Banyak dari kita, anak kampung atau anak desa, merasa minder duluan. Padahal, pengalaman hidup kita justru nilai plus. Kita tahu cara kerja keras, kita tahu arti uang, kita tahu bagaimana menghadapi orang banyak dengan sabar. Itu semua soft skill yang mahal.
Jadi, saat interview, jangan pernah bilang, "Saya cuma lulusan SMK" atau "Saya nggak punya pengalaman di kota." Ganti dengan, "Saya lulusan SMK jurusan akuntansi, dan saya sudah bantu pembukuan usaha keluarga selama dua tahun." Itu jauh lebih kuat.
Ingat, interviewer juga cuma manusia. Mereka cari orang yang jujur, mau belajar, dan bisa diandalkan. Kalau kamu bisa tunjukkan itu, gaji yang layak akan mengikuti. Nggak perlu takut ngomong angka. Yang penting, angka itu masuk akal dan kamu siap menjelaskan kenapa kamu layak mendapatkannya.
Kalau kamu sedang bersiap interview kerja di kampung atau kota kecil, coba tulis dulu ekspektasi gajimu di kertas. Cari tahu standarnya. Lalu latihan ngomong di depan cermin. Percaya deh, sekali kamu berani, seterusnya jadi lebih mudah.
===AKHIR===